The Danish Way of Parenting

Reframing - Bingkai Persepsi
Kacamata Baru

Suatu hari kita berjalan dalam arus kehidupan. Menyerap pengalaman demi pengalaman. Tanpa sadar, kita menyaringnya melalui lensa batin yang telah lama terbentuk. Cara kita melihat dunia bekerja, cara kita merasakan dan memahami segala yang hadir, sebenarnya bukanlah kebenaran mutlak. Melainkan hasil dari cara pandang yang telah lama kita warisi.

Kita mengira apa yang kita lihat adalah sebagaimana adanya. Padahal itu adalah sebagaimana kita terbiasa melihatnya.

Nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil, ajaran dari orang tua, norma-norma yang melekat dalam budaya, semuanya menyusun sebuah bingkai. Dari bingkai inilah kita memandang dunia. Dan dari pandangan itu, lahirlah persepsi kita.

Bingkai ini menentukan bagaimana kita memaknai realitas. Ia membentuk kenyataan yang kita yakini. Membentuk suatu persepsi. Apa yang kita anggap benar, penting, atau salah. Maka tidak heran jika dua orang bisa melihat hal yang sama, namun merasa dan menanggapi dengan cara yang sangat berbeda.

Karena itulah terkadang kita perlu sudut pandang yang baru. Seperti melepas kacamata lama dan mengenakan yang baru. Kacamata yang jernih, yang membuat kita menyadari bahwa selama ini ada banyak hal yang bisa jadi terluput. Fokus yang dulunya kabur menjadi terang. Detail-detail yang dulu samar kini mulai tampak. Dengan kacamata baru, dunia terlihat berbeda. Lebih luas, lebih utuh.

Sebagai seorang Muslim, kita patut bersyukur karena kita memiliki resep untuk kacamata yang pas: syariat. Ia bukan sekedar aturan, tetapi cara pandang. Ia mengajarkan kita untuk melihat dengan kejernihan hati dan ketegasan sikap. Dalam dunia yang penuh bias, di mana benar dan salah sering kali bergantung pada sudut pandang, syariat hadir sebagai kompas yang menuntut arah.

Dalam ruang sosial, kebenaran bisa tampak relatif. Apa yang dianggap benar oleh suatu kelompok, bisa jadi salah bagi kelompok lain. Namun ketika kita memakai kacamata syariat, tidak ada lagi ruang abu-abu. Kita diajarkan untuk mampu mengambil sikap, berdiri tegak pada kebenaran yang sejati. Bukan berdasarkan opini manusia, tetapi berdasarkan petunjuk dari-Nya.

Dengan kacamata yang lebih tepat, kita bisa mulai melihat segala sesuatu dari sudut yang berbeda. Kita tidak hanya melewati kejadian demi kejadian, tetapi juga belajar darinya. Perlahan kita bisa memaknai ulang, mengambil pelajaran, dan melangkah dengan pemahaman yang lebih matang.


Bermanfaat? Bantu kami tetap menulis dan berbagi 📚
💛 Dukung Kami >
  Bagikan

Last updated: 2025-06-27 10:41:32