Reframing - Bingkai Persepsi
Parenting with Perspective
Lagi-lagi, peran orang tua menjadi sangat krusial. Pada tahap ini, kita hadir untuk membersamai anak, membantu mereka memahami setiap kejadian, mengajak mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda, dan memaknai ulang suatu peristiwa dengan lebih bijak.
Inilah peran kita. Menjadi penuntun dalam proses reframing, agar anak-anak tidak terjebak dalam sudut pandang yang sempit, melainkan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi jatuh bangunnya kehidupan.
Hal penting berikutnya yang tak boleh diabaikan adalah menghindari kebiasaan memberi label pada seseorang. Ucapan seperti, "Dia tidak suka membaca," "Dia susah makan," terdengar sederhana, namun sejatinya bisa mengikat seseorang dalam persepsi diri yang sempit. Sering kali, tanpa kita sadari, label semacam ini melekat kuat di benak anak. Dan ketika hal itu diulang terus-menerus, mereka bisa mulai mempercayainya sebagai kebenaran tentang diri mereka.
Bahasa yang kita gunakan memiliki kekuatan besar. Ia bukan hanya membentuk cara pandang anak terhadap dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bingkai, cara kita memperkenalkan identitas, baik kepada anak-anak, maupun kepada dunia.
Pada kenyataannya, di balik setiap perilaku anak, hampir selalu ada perasaan yang menyertainya. Sebuah tindakan tidak pernah muncul begitu saja, selalu ada alasan di baliknya. Mungkin anak memilih tidur daripada membaca buku karena tubuhnya benar-benar lelah. Mungkin ia menolak makan bukan karena rewel, tapi karena perutnya sedang tidak nyaman.
Di sinilah pentingnya untuk memisahkan antara tindakan dari orangnya. Kita perlu belajar untuk tidak langsung melekatkan tindakan tertentu sebagai ciri kepribadian.
Cobalah melihat perilaku sebagai respons atas situasi, bukan sebagai gambaran mutlak tentang siapa mereka.Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi orang tua atau pendidik yang lebih bijak, tapi juga menjadi tempat yang aman untuk anak belajar memahami dirinya sendiri.
Karena itu, alih-alih terburu-buru menilai, bantu anak untuk mengenali apa yang sebenarnya mereka rasakan. Ajak mereka mengidentifikasi emosi yang tersembunyi di balik setiap tindakan dengan bahasa yang mendukung, bukan yang menghakimi.
Dampingi mereka untuk memahami apa tujuan mereka dalam suatu situasi, dan bantu juga melihat tujuan orang lain. Dengan begitu, mereka belajar bahwa setiap interaksi punya sudut pandang yang berbeda, dan dari sana mereka bisa menemukan cara yang lebih bijak dalam membawa diri bahkan dalam situasi yang sulit sekalipun.
Bermanfaat? Bantu kami tetap menulis dan berbagi 📚
💛 Dukung Kami >
Last updated: 2025-06-27 16:17:47