Reframing - Bingkai Persepsi
Optimis yang Realistis
Memaknai ulang dapat menjadi sarana untuk melatih diri dalam menemukan sisi positif dari peristiwa yang kurang menyenangkan.
Ketika hujan deras turun di Senin pagi, alih-alih mengeluh karena cuaca tampak menghambat perjalanan ke tempat kerja, kita bisa memilih untuk bersyukur. Bersyukur masih bisa berangkat dengan sepeda motor dan jas hujan. Bersyukur karena masih ada kantor yang bisa dituju, yang berarti kita masih memiliki pekerjaan.
Intinya, selalu ada hal yang patut disyukuri. Jangan biarkan fokus kita hanya tertuju pada rasa tidak nyaman atau kecewa sesaat.
Bukankah selama ini kita telah hidup dalam banyak kemudahan dan kenyamanan? Maka jika sesekali keadaan tidak berjalan sesuati harapan, tidak mengapa. Tidak semua hal harus selalu sejalan dengan keinginan kita. Dan itu pun bagian dari hidup yang patut dihargai.
Dalam buku ini digambarkan karakter orang Denmark yang menarik. Mereka tidak berpura-pura bahwa hidup selalu menyenangkan. Mereka pun tidak menutup mata terhadap hal-hal negatif. Hanya saja, mereka memilih untuk lebih berfokus pada sisi baik dari suatu keadaan, daripada menghabiskan waktu meratapi bagian sedihnya.
Para psikolog menyebut karakter ini sebagai "optimis realistis."
Optimis realistis bukan berarti mengabaikan kenyataan pahit atau informasi negatif. Mereka tidak hidup dalam senyum palsu yang dipaksakan, seolah-olah semuanya baik-baik saja. Sebaliknya, mereka menyadari bahwa memaksakan diri untuk selalu merasa bahagia, padahal ada persoalan serius, justru bisa menjadi beban yang meledak di kemudian hari.
Sikap optimis realistis adalah kemampuan untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya, sembari tetap memilih untuk melihat dari sudut pandang yang lebih positif.
Mereka tidak menyangkal kenyataan, tapi juga tidak larut dalam keterpurukan. Mereka hadir sepenuhnya dalam hidup, dengan mata terbuka dan hati yang tetap hangat.
Bermanfaat? Bantu kami tetap menulis dan berbagi 📚
💛 Dukung Kami >
Last updated: 2025-06-27 11:26:11