The Danish Way of Parenting

Play - Bermain dengan Kacamata Bijak
Mentor Sejati

Ketika kita membebaskan anak untuk bermain, bukan berarti kita acuh. Bukan pula tanda bahwa kita melepaskan tanggung jawab. Justru, itu adalah bentuk memberikan ruang yang bijak. Ruang bagi anak untuk mengeksplorasi, mencoba, dan belajar dalam dunianya sendiri.

Dalam proses itu, kita hadir sebagai tour guide yang kooperatif. Menjadi coach yang solutif. Menjadi mentor sejak hari pertama. Siap mendampingi, tanpa mendominasi. Kita, orang tua, adalah sosok dewasa pertama yang mereka temui dan kenal. Maka, jadikanlah kesempatan ini sebagai jalan untuk membangun kepercayaan. Menjadi teman perjalanan dalam proses tumbuh mereka, dalam upaya mengenal dunia dan diri mereka sendiri.

Memberikan ruang seperti ini berdampak besar terhadap tumbuhnya rasa percaya diri anak. Ketika mereka diberi kesempatan untuk mencoba, mereka belajar bertanggung jawab. Tak selalu harus didikte harus begini, harus begitu. Tak selalu pula disalahkan atas kecerobohan yang sejatinya adalah bagian dari belajar. Dan tak mesti terus-menerus dipuji atas pencapaian semata.

Orang tua cukup hadir dengan sikap yang bijak dan seimbang.

Tak berlebihan, tak pula abai. Karena justru di situlah anak menemukan arah dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dalam setiap aspek kehidupan, tak terkecuali dalam halmendidik anak. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan banyak arahan yang menjadi pedoman berharga bagi kita sebagai orang tua, tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan dan membesarkan amanah yang dititipkan Allah kepada kita

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

“Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fitrah, maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia Yahudi, atau menjadikan dia Nasrani, atau menjadikan dia Majusi. Sebagaimana halnya hewan ternak yang dilahirkan, ia dilahirkan dalam keadaan sehat. Apakah Engkau lihat hewan itu terputus telinganya?” 

Maka dari sini kita memahami betapa besar peran orang tua dalam kehidupan seorang anak. Setiap anak lahir di atas fitrah. Putih dan bersih bagaikan kertas kosong yang masih belum ada coretannya. Seiring berjalannya waktu, kita sebagai orang tuanya memiliki porsi yang besar dalam "mewarnai" mereka, dalam membentuk arah dan cara pandang mereka terhadap kehidupan.

Tentu semua itu hanya mungkin terjadi dengan taufik dan pertolongan dari Allah. Dengan izin-Nya, orang tua mampu untuk membersamai anak dan membimbing mereka bertumbuh.


Bermanfaat? Bantu kami tetap menulis dan berbagi 📚
💛 Dukung Kami >
  Bagikan

Last updated: 2025-06-27 06:37:23